![]() |
| Calo Tiket Timnas U-19 Merajalela |
METROINDO.ID | DELI SERDANG – Euforia pertandingan Timnas Indonesia U-19 vs Vietnam U-19 ternoda oleh maraknya praktik percaloan tiket yang kembali meresahkan para suporter.
Di tengah tingginya antusiasme masyarakat untuk mendukung Garuda Muda, justru muncul dugaan permainan tiket yang membuat banyak pendukung setia gagal masuk stadion.
Berdasarkan temuan awak media, aktivis LSM, dan sejumlah konten kreator di sekitar lokasi pertandingan, tiket pertandingan diduga diperjualbelikan kembali oleh calo dengan harga yang melonjak tidak wajar.
Harga tiket yang seharusnya dapat dijangkau masyarakat senilai Rp 100 ribu kini dilaporkan dijual ulang mulai Rp300 ribu, Rp350 ribu, Rp400 ribu, Rp500 ribu hingga mencapai Rp700 ribu per Tiket.
Fenomena ini memicu kemarahan dan kekecewaan publik. Banyak suporter yang datang dari berbagai daerah harus menelan pil pahit setelah gagal mendapatkan tiket resmi, meski telah mengeluarkan biaya perjalanan, penginapan, hingga meninggalkan pekerjaan demi menyaksikan langsung perjuangan Timnas Indonesia.
Ironisnya, di saat ribuan suporter berburu tiket secara resmi, para calo justru terlihat leluasa menawarkan tiket dengan harga berkali-kali lipat.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius: bagaimana tiket dalam jumlah besar bisa jatuh ke tangan para calo? Di mana letak pengawasan panitia penyelenggara?
Masyarakat menilai praktik percaloan yang terus berulang bukan lagi sekadar ulah oknum di luar stadion, melainkan menjadi alarm keras yang menunjukkan adanya kelemahan serius dalam sistem distribusi dan pengawasan tiket.
Formappel RI: Jangan Jadikan Cinta Timnas Sebagai Ladang Bisnis Oknum
Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Formappel RI R Anggi mengecam keras maraknya praktik percaloan yang dinilai telah merampas hak masyarakat untuk memperoleh tiket secara adil.
"Kami sangat prihatin dan mengecam keras maraknya praktik percaloan tiket dalam pertandingan Timnas. Ini bukan sekadar persoalan jual beli tiket, tetapi menyangkut hak rakyat untuk mendukung negaranya secara langsung. Jangan sampai kecintaan masyarakat terhadap Timnas dijadikan ladang bisnis oleh segelintir oknum yang hanya mencari keuntungan di atas penderitaan suporter," tegasnya. Senin (8/6/2026).
Menurutnya, panitia penyelenggara tidak boleh menutup mata terhadap kondisi yang terus berulang setiap kali Timnas bertanding.
"Panitia harus bertanggung jawab dan melakukan evaluasi total terhadap sistem penjualan tiket. Jangan sampai tiket dalam jumlah besar justru beredar di tangan pihak tertentu, sementara masyarakat yang datang dari luar daerah tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Ini sangat tidak adil," katanya.
Ia menegaskan bahwa banyak suporter telah berkorban waktu, tenaga, dan biaya demi mendukung Garuda Muda.
"Bayangkan ada masyarakat yang menempuh perjalanan ratusan kilometer, mengeluarkan biaya transportasi dan penginapan, bahkan meninggalkan pekerjaan demi mendukung Timnas. Namun saat tiba di stadion, tiket habis dan yang tersedia justru tiket dari calo dengan harga mencekik. Ini bentuk ketidakadilan yang tidak boleh dibiarkan," ujar Aktivis yang dikenal sangat vokal di Sumut itu.
Desak Investigasi Dugaan Kebocoran Tiket
Formappel RI juga mendesak agar dilakukan investigasi menyeluruh terhadap mekanisme distribusi tiket yang dinilai perlu dipertanyakan.
"Jika memang tidak ada kebocoran, mengapa calo bisa menguasai tiket dalam jumlah besar? Pertanyaan ini harus dijawab secara terbuka kepada publik. Jika ditemukan adanya oknum yang bermain dalam distribusi tiket, maka harus diusut tuntas tanpa pandang bulu," tegasnya.
Menurut Formappel RI, sepak bola adalah milik rakyat dan harus dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya mereka yang mampu membeli tiket dengan harga berkali-kali lipat.
"Jangan biarkan stadion dipenuhi praktik percaloan sementara suporter sejati hanya menjadi penonton di luar pagar. Sepak bola Indonesia tidak boleh tunduk kepada calo. Suporter harus dilindungi, bukan dikorbankan," harap Jurnalis yang dikenal sangat vokal menyuarakan hati nurani rakyat itu
Saatnya Berbenah
Formappel RI meminta agar ke depan sistem penjualan tiket dilakukan dengan verifikasi yang lebih ketat, transparan, dan berbasis identitas untuk menutup ruang gerak para pelaku percaloan.
"Jangan biarkan semangat nasionalisme, kecintaan rakyat terhadap Timnas, dan perjuangan suporter yang datang dari jauh dikalahkan oleh praktik percaloan. Jika persoalan ini terus dibiarkan, maka yang dirugikan bukan hanya suporter, tetapi juga citra sepak bola Indonesia itu sendiri." tegas Ketua Umum Formappel RI. (MI/Hendra)
