![]() |
| Suasana dirumah duka |
METROINDO.ID | MEDAN - Maliki, anak dari Zaitun korban tabrakan maut di perlintasan kereta api Lingkungan III, Kelurahan Tebing Tinggi, Kota Tebing Tinggi, pada Rabu (21/1/2026), hingga kini masih mengalami luka yang mendalam.
Ibunya, Zaitun (54), neneknya, Asrah (80), serta tujuh orang anggota keluarga lainnya tewas setelah mobil Avanza BK 1657 ABP yang mereka tumpangi ditabrak kereta api.
Di rumah duka yang terletak di Gang Arjuna, Jalan Purwo, Desa Mekar Sari, Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, Maliki terlihat terpukul dan tak berdaya.
Sambil menyalami para pelayat, Maliki mempertanyakan apakah keluarganya semasa hidup dikenal sebagai orang baik.
“Keluargaku baik kan, Bu? Kenapa ramai kali orang yang datang,” ujar Maliki sambil menyalami orang-orang yang datang melayat.
Di waktu yang sama, Maliki juga mempertanyakan mengapa keluarganya harus meninggal dunia secara bersamaan.
“Kenapa harus meninggal sekaligus, kenapa nggak satu-satu meninggalnya,” ujarnya dengan wajah linglung.
Ditambahkan Maliki, awalnya keluarga berangkat dari Kota Medan menuju Kabupaten Batu Bara untuk menghadiri undangan pesta. Namun, dalam perjalanan pulang dari Kabupaten Batu Bara, mereka berniat singgah ke rumah saudara di Kota Tebing Tinggi.
“Kalau seandainya mereka tak singgah ke rumah keluarga di Tebing Tinggi, mungkin kejadian ini tak terjadi. Karena bisa lewat kota, jadi nggak ada palang kereta api. Tapi bagaimanalah, mungkin ini sudah takdirnya,” katanya.
Saat hendak diwawancarai wartawan terkait kronologis lengkap kejadian tersebut, Maliki menolaknya dengan alasan masih berduka dan belum ada persetujuan dari keluarga besar.
Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Polda Sumut, Kombes Pol Firman Darmansyah, mengatakan ada sembilan orang meninggal dunia dalam insiden ini, terdiri dari orang dewasa dan ank-anak yang merupakan satu keluarga besar. (MI/Hendra)
