![]() |
| Pasar Tradisional Marelan |
METROINDO.ID | MEDAN - Kondisi Pasar Tradisional Marelan, Kota Medan, Sumatera Utara memprihatinkan dan kembali menjadi sorotan.
Pasalnya, Pasar Marelan terlihat Kumuh dan Bangunan pasar yang menjadi tempat menggantungkan hidup para pedagang itu disebut mengalami kerusakan cukup parah dan dikhawatirkan membahayakan keselamatan pedagang maupun masyarakat yang beraktivitas di dalamnya. Minggu (30/8/2026).
Ironisnya, di tengah kondisi bangunan yang membutuhkan perhatian dan perbaikan, pedagang masih dibebankan pembayaran retribusi maupun kontribusi bulanan kepada PUD Pasar Kota Medan.
Sejumlah pedagang mempertanyakan penggunaan dana yang selama ini mereka bayarkan. Sebab, kondisi fisik pasar dinilai belum menunjukkan adanya perawatan yang memadai.
"Tiap hari pedagang dikutip retribusi, tapi pasar Marelan tetap kumuh dan nyaris rubuh, kemana uang kutipan itu?," tanya Boru Siregar Pedagang Pasar Tradisional Marelan itu.
Kondisi paling memprihatinkan terlihat ketika hujan turun. Atap di lantai II disebut sudah banyak mengalami kerusakan, bahkan terdapat bagian yang tidak lagi memiliki penutup atap yang layak.
Akibatnya, air hujan dapat masuk dan menetes ke area pedagang. Untuk mengantisipasi kerusakan barang dagangan, pedagang terpaksa memasang kanopi maupun seng plastik secara mandiri.
Ketika hujan deras mengguyur, air juga disebut menggenangi sejumlah bagian di dalam pasar.
Kondisi tersebut berpotensi merusak barang dagangan dan semakin menyulitkan pedagang dalam menjalankan aktivitas usaha.
"Kalau udah hujan turun, atap nya itu bocor barang-barang dagangan kami pasti cepat rusak dan pasar ini banjir tergenang air," cetusnya lagi.
Pedagang Pertanyakan Kontribusi
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar dari kalangan pedagang dan masyarakat: ke mana dana retribusi dan kontribusi yang selama ini dibayarkan para pedagang?
"Jika pungutan tetap berjalan, masyarakat tentu berharap ada transparansi mengenai pengelolaan dana tersebut, termasuk berapa besar penerimaan dari Pasar Marelan dan berapa yang dialokasikan untuk pemeliharaan serta perbaikan fasilitas pasar," tegas Dedi perwakilan Pedagang Tradisional Kota Medan itu.
Sejumlah pedagang bahkan menilai wajar apabila muncul keberatan atau penundaan pembayaran kontribusi ketika kewajiban mereka tidak diimbangi dengan pelayanan dan pemeliharaan fasilitas yang layak.
"Persoalan Pasar Marelan juga dinilai tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasar merupakan salah satu fasilitas publik yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat kecil, khususnya pedagang dan pelaku UMKM.," ujarnya.
Pemko Medan Diminta Jangan Tutup Mata
Pemerintah Kota Medan dan PUD Pasar Kota Medan didorong segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi bangunan Pasar Marelan.
Jika terdapat bagian bangunan yang berpotensi membahayakan keselamatan, langkah pengamanan dan perbaikan seharusnya menjadi prioritas.
Masyarakat juga mempertanyakan apakah PUD Pasar Kota Medan memiliki anggaran yang cukup untuk melakukan perawatan dan perbaikan pasar-pasar tradisional yang berada di bawah pengelolaannya.
Apalagi, persoalan kerusakan fasilitas pasar disebut bukan hanya terjadi di Marelan, tetapi juga ditemukan di sejumlah pasar lainnya di Kota Medan.
Soal Pengelolaan, Perlu Transparansi
Di sisi lain, muncul pula sorotan terhadap tata kelola dan pembagian pengelolaan aset maupun usaha di lingkungan PUD Pasar Kota Medan.
Namun, berbagai tudingan mengenai adanya pembagian pengelolaan kepada pihak tertentu perlu dibuktikan dengan data dan dokumen yang jelas.
"Karena itu, manajemen PUD Pasar Kota Medan perlu diberikan ruang untuk memberikan penjelasan dan membantah apabila tudingan tersebut tidak benar," tegas Pengamat Pasar Tradisional di Kota Medan itu.
Transparansi menjadi penting agar tidak muncul spekulasi di tengah masyarakat.
"Pertanyaan sederhananya, jika pedagang diwajibkan membayar retribusi dan kontribusi, mengapa kondisi fasilitas pasar masih memprihatinkan?," katanya.
Pemerintah Kota Medan juga diharapkan dapat menjelaskan kebijakan penganggaran untuk perbaikan pasar tradisional. Sebab, pasar bukan sekadar bangunan, melainkan tempat ribuan masyarakat mencari nafkah setiap hari.
"Pedagang berharap Pemko Medan tidak hanya menargetkan penerimaan dari sektor pasar, tetapi juga memberikan perhatian nyata terhadap kelayakan dan keselamatan fasilitas yang digunakan masyarakat,"tandas Aktivis yang selalu mengkritik oknum pemerintahan nakal.
Kini, para pedagang menunggu jawaban: kapan Pasar Marelan diperbaiki dan bagaimana pertanggungjawaban atas retribusi serta kontribusi yang selama ini mereka bayarkan?
Penulis : Hendra Hartanto
Editor : Metroindo.id
