![]() |
| Menu MBG di Duga Berulat |
METROINDO.ID | DELI SERDANG - Dugaan ditemukannya benda yang menyerupai ulat dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima siswa SDN 105344 Denai Lama, Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, Selasa (11/8/2026), menuai perhatian publik.
Sorotan terhadap persoalan tersebut semakin menguat setelah video kejadian beredar di masyarakat.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum Forum Masyarakat Peduli dan Pemerhati Lingkungan Republik Indonesia (Formappel'RI), R. Anggi Syaputra, meminta Badan Gizi Nasional (BGN) tidak berhenti pada penyampaian klarifikasi, tetapi melakukan verifikasi secara objektif dan transparan.
Anggi menilai, persoalan tersebut perlu dipastikan melalui pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan, terutama karena makanan tersebut dikonsumsi oleh anak-anak.
Sebelumnya, SPPG Deli Serdang Pantai Labu Denai Kuala menyampaikan klarifikasi bahwa objek yang terlihat dalam video diduga berasal dari buah salak. Dalam laporan tertanggal 12 Agustus 2026, sumber persoalan disebut sebagai “buah salak berulat.”
Namun, menurut Anggi, penjelasan tersebut perlu diperkuat dengan hasil pemeriksaan yang jelas agar masyarakat memperoleh kepastian mengenai asal benda yang ditemukan.
“Kami menghargai klarifikasi dari pihak SPPG. Tetapi karena ini menyangkut makanan yang dikonsumsi anak-anak, masyarakat tentu berhak mengetahui hasil verifikasi secara jelas. Jangan sampai persoalan selesai hanya berdasarkan dugaan tanpa pemeriksaan yang memadai,” ujar Anggi. Rabu (12/8/2026).
Soroti Proses Pengawasan Bahan Baku
Anggi mengatakan, apabila hasil pemeriksaan nantinya membuktikan bahwa benda tersebut memang berasal dari buah salak, maka perlu dijelaskan bagaimana proses penerimaan bahan baku, penyortiran, pencucian hingga pengolahan dilakukan hingga benda yang diduga ulat tersebut dapat masuk ke dalam paket makanan.
“Yang harus dicari bukan hanya dari mana benda itu berasal, tetapi juga bagaimana proses pengawasan bahan makanan dilakukan. Ini penting agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya.
Ia juga meminta BGN bersama pihak terkait melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap rantai pengelolaan makanan MBG, mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, proses pengolahan, pengemasan hingga distribusi makanan kepada siswa.
Jika masih tersedia sampel makanan dari kejadian tersebut, Anggi berharap sampel dapat diamankan dan diperiksa secara objektif, termasuk melakukan pemeriksaan terpisah terhadap komponen buah salak dan menu lainnya.
Minta Hasil Verifikasi Dibuka ke Publik
Menurut Anggi, keterbukaan hasil pemeriksaan menjadi penting agar masyarakat tidak terus dihantui spekulasi.
“Kami meminta fakta yang sebenarnya. Kalau hasil pemeriksaan membuktikan berasal dari salak, sampaikan secara terbuka. Kalau ternyata sumbernya berbeda, masyarakat juga harus mengetahuinya. Yang terpenting adalah kepastian berdasarkan verifikasi,” tegasnya.
Anggi menegaskan, kritik tersebut bukan dimaksudkan untuk menghambat pelaksanaan program MBG. Sebaliknya, ia berharap evaluasi terhadap dugaan persoalan keamanan pangan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.
“Kami tidak bermaksud menghambat program MBG. Justru kami ingin program ini berjalan dengan baik, aman dan semakin dipercaya masyarakat. Karena itu, setiap dugaan harus diperiksa secara serius dan hasilnya disampaikan secara transparan,” pungkasnya.
Hingga hasil verifikasi resmi disampaikan, keberadaan benda yang diduga ulat maupun sumber asalnya masih belum dapat dipastikan secara independen.
Masyarakat pun berharap BGN dan pihak terkait segera menyampaikan hasil pemeriksaan secara terbuka, sehingga persoalan tersebut tidak berkembang menjadi spekulasi berkepanjangan sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat standar keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.(MI/Red)
